Bagaimana Seharusnya Proses Belajar Mengajar ?


Beberapa waktu yang lalu saya meminta nasehat kepada Bapak Dr.rer.nat. M. F. Rosyid, seorang Dosen Fisika UGM, Doktor dibidang Fisika dari Technische Universitaet Clausthal Jerman. Bapak ini juga sering diundang sebagai narasumber dan pembicara dalam seminar-seminar nasional penelitian fisika diberbagai kampus di Indonesia.

Didalam pesan via facebook tersebut, saya bertanya kepada beliau “tentang apa tips-tips dan movitasi untuk para mahasiswa”.

Alhamdulillah Beliau pun membalas pesan saya, dan kemudian memberikan saya nasehat sebagai berikut :

Nilai (terkait suatu pembelajaran) muncul sebagai hasil penilaian. Mengingat esensinya, penilaian lebih tepat jika dipandang sebagai pengukuran. Sementara pengukuran dilakukan untuk mengetahui kuantitas tertentu dari sutau sistem. Kuantintas ini diharapkan dapat mencerminkan banyak hal. Jika penilaian adalah pengukuran, maka nilai sesungguhnya adalah hasil pengukuran. Jadi, ujian, misalnya, adalah pengukuran dan nilai ujian adalah hasil ukur. Hasil ukur ini BUKAN pencapaian pembelajaran, melainkan sesuatu yang diharapkan menjadi cerminan hasil pembelajaran, yakni menggambarkan seberapa dalam pemahaman dan seberapa mapan penguasaan seseorang akan pokok-pokok pembelajaran. Tetapi, dalam prakteknya, dewasa ini sangat sulit untuk memperoleh hasil ukur yang benar-benar mencerminkan hasil pembelajaran seseorang. Banyak faktor yang memengaruhinya: mulai dari soal sebagai alat ukurnya, pandangan guru atau dosen tentang ujian, pandangan siswa atau mahasiswa tentang ujian, dan masih banyak lagi. Saking rumitnya permasalahan ini, muncullah bidang kajian yang kita kenal sebagai psikometrik.

Dengan cara pandang di atas, hasil penilaian (baik maupun buruk) seharusnya bermanfaat bagi para pembelajar terutama untuk penyempurnaan kualitas hasil-hasil pembelajaaran. Nilai yang didapat seorang pembelajar memberikan banyak informasi tentang seberapa jauh dia masih harus berupaya untuk lebih memahami dan menguasai suatu topik pembelajaran.

Tetapi, dewasa ini terkesan bahwa nilai adalah pencapaian dan ujian adalah sesuatu momen yang sangat menentukan jalan kehidupan seseorang.

 

Jika nilai dapat dipandang sebagai indikator, maka pembelajaran adalah proses. Jalannya proses dapat dilihat dari indikatornya. Jangan salah, nyala indikator sesungguhnya bukanlah pencapaian pembelajaran, bukan pula tujuan pembelajaran. Tetapi, sudah sepantasnya nyala indikator terkorelasi dengan proses: jika indikator menyala maka proses telah berlangsung dengan benar sehingga pencapaian-pencapaian dalam proses mengakibatkan indikator-indikator menyala. Jadi, kesempurnaan proseslah yang seharusnya menyalakan indikator. Oleh karena itu, kesempurnaan proseslah yang harus diupayakan dengan kesungguhan.

Tetapi sepanjang hayat saya hingga hari ini, saya melihat masyarakat kita cenderung menjadi lebih terfokus pada nyala indikator. Mengapa? Ternyata nyala indikator lebih memberikan optimisme bagi kehidupan individual daripada pencapaian-pencapaian nyata dalam proses pembelajaran. Seringkali ada UPAYA KHUSUS yang dilakukan oleh masyarakat kita guna menyalakan indikator tanpa peduli dengan kesempurnaan proses. Mereka lebih fokus dalam upaya khusus ini daripada BERSABAR dalam berproses. Mereka lebih percaya pada upaya khusus ini sebab mereka lebih percaya pada konsekuensi nyala indikator. Tetapi secara kolektif, upaya-upaya khusus ini akhirnya hanya membawa kita pada fatamorgana. Seperti yang Anda lihat hari ini, banyak sarjana yang tidak berdaya dengan atribut yang mereka miliki sebab kesarjanaan mereka adalah kesarjanaan yang kosong.

Tetapi ketahuilah, bahwa pencapaian-pencapaian dalam proses pembelajaran akan lebih nyata dan memberi manfaat nyata dalam kehidupan. Bersabar dalam proses itu (mungkin harus melalui jalan berliku dan mendaki) akan membawa Anda pada kualitas diri yang mampu menapaki kehidupan dengan penuh keyakinan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

 

Lazimnya, perpustakaan universitas di tanah air menjadi ramai menjelang ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Menurut sepengamatan saya, hanya beberapa mahasiswa saja yang bersabar sepanjang semester untuk ‘tenggelam’ dalam buku-buku teks serius dan jatuh bangun dalam berlatih menerapkan konsep dan teori dalam permasalahan-permasalahan. Yang lainnya berharap dapat “menunggu di tikungan”. Biasanya mereka (‘penunggu tikungan’ itu) telah memiliki koleksi soal-soal UTS dan UAS yang akan menjadi bekal menghadapi ujian-ujian itu. Bekal ini akan menjadi fokus mereka menjelang UTS maupun UAS. Mereka akan berkumpul membahas soal-soal itu sambil berharap beberapa di antaranya keluar dalam ujian atau mereka mendatangi beberapa mahasiswa “sakti” (yang selalu ada di setiap angkatan) atau kakak-kakak angkatan yang menonjol untuk menanyakan jawaban soal-soal yang ada dalam koleksi mereka. Parahnya, beberapa dosen tidak pernah membuat soal baru untuk setiap tahunnya. Para dosen itu hanya ‘merotasi’ atau menggilir soal-soal itu. Klop sudah antara harapan ‘penunggu tikungan’ dan dosen yang sibuk itu. Itulah salah satu yang dalam status saya sebelumnya saya sebut sebagai “UPAYA KHUSUS untuk menyalakan indikator”.

Berbahagialah Anda yang telah mampu menekan diri Anda sehingga bisa bersabar sepanjang semester untuk ‘tenggelam’ dalam buku-buku teks dan berupaya keras untuk kesempurnaan proses pembelajaran. Mengerjakan atau (lebih tepatnya) memecahkan soal-soal secara mandiri merupakan sesuatu yang sangat penting bagi Anda. Tetapi ingat, upaya Anda dalam memecahkan soal-soal bukan dimaksudkan sebagai latihan untuk mempersiapkan diri dalam ujian-ujian, melainkan untuk mengontrol kesempuranaan proses yang Anda lakukan. Mampu memecahkan soal-soal merupakan indikator penguasaan Anda atas pokok-pokok pembelajaran.

Jika Anda sudah mampu menikmati hal ini, maka Anda tidak perlu khawatir dengan hal-hal kecil seperti UAS dan UTS karena Anda memiliki target-target yang jauh lebih hakiki dan tentu tidak sesederhana itu.

Pencapaian-pencapaian pembelajaran yang hakiki itu akan lebih membahagiakan dan memerdekakan meskipun harus dilalui dengan kerja keras. Tetapi pepatah Jerman mengatakan “Arbeit mach frei” (bekerja membuat kita merdeka).

Perhatikan bahwa di setiap jenjang pendidikan di tanah air ini terutama di perguruan tinggi, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran selalu disisipi dan ditutup dengan ujian. Anda harus sukses di kedua ujian itu atau Anda harus mengulang matakuliah itu tahun depan. Keadaan atau tuntutan semacam inilah yang menyebabkan terjadinya PERGESERAN kesadaran, dari kesadaran bahwa penyelenggaraan sebuah matakuliah adalah upaya untuk memupuk atau membangun pemahamanan dan kompetensi suatupokok pembelajaran menjadi sekedar upaya persiapan menghadapi ujian tengah semester dan akhir semester. Pergeseran kesadaran semacam itu ternyata bukan saja terjadi pada diri mahasiswa, tetapi ternyata juga bisa terjadi pada para dosen dan peneyelenggara program studi. Akibatnya, sikap dan perilaku para mahasiswa ataupun dosen selama perkuliahan tidak mencerminkan upaya sungguh-sungguh dalam memupuk kompetensi.

Gagal di ujian tengah semester dan ujian akhir semester berarti keharusan mengulang kuliah tahun depan. Kegagalan itu seolah menghapus proses pembelajaran yang telah dilakukan selama satu semester. Itulah alasan para mahasiswa lebih memilih fokus pada upaya untuk menghadapi ujian-ujian, yakni lebih fokus pada “upaya khusus” dalam menghadapi setiap ujian.
Padahal gagal di ujian bukan berarti gagal dalam pencapaian hakiki proses pembelajaran. Banyak faktor yang menentukan kelulusan dalam ujian. Dalam hal ini, para dosen harus benar-benar mampu memperbaiki instrumen penilaian sehingga penilaian benar-benar objektif dan mampu melihat pencapaian haikiki proses pemebelajaran.

Ada sistem yang menarik untuk dikemukakan di sini yang kemungkinan dapat mengatasi persoalan di atas. Sistem semacam ini diterapkan di Jerman. Kuliah-kuliah tidak diakhiri dengan ujian. Ujian dilaksanakan terpisah dari kuliah. Jika Anda mengambil sebuah mata kuliah pada suatu semester, maka Anda boleh mengambil ujian matakuliah tersebut kapanpun setelah semester itu, yakni sewaktu-waktu ketika Anda merasa sudah siap. Ujian yang diselenggarakan merupakan ujian lesan. Dengan ujian semacam ini, dosen benar-benar bisa melihat kedalaman pemahaman dan kompetensi Anda. Dengan cara seperti ini, kuliah benar-benar dimaksudkan sebagai sarana untuk memupuk kompetensi dan memperdalam pemahaman. Jika dalam suatu ujian gagal, maka Anda dapat segera mengajukan usulan ujian lagi, tanpa harus ikut kuliah lagi.

 

Tulisan Bapak Rosyid ini sungguh sangat bermanfaat dan memberikan gambaran kepada saya, tentang bagaimana seharusnya mahasiswa itu.

Kepada Bapak Rosyid saya haturkan terima kasih dan semoga Bapak selalau dalam lindungan Allah SWT. Dan tulisan ini saya muat ulang diblog dengan harapan semoga dapat memberikan motivasi dan semangat belajar kepada teman-teman.

 

 

 

 

Iklan

Ketika OSPEK Menjadi Hal yang Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru


Bagi yang baru lulus SMA/setara tahun ini tentu menjadi tahun yang bahagia, dimana para siswa akan menginjak bangku kuliah di Universitas. Pada saat memulai aktivitas kuliah, mahasiswa akan menghadapi yang namanya ospek. Adapun tujuan ospek  itu sendiri adalah untuk membentuk karakter dan pengenalan lingkungan kampus pada mahasiswa baru. Namun apabila kita melihat fakta dilapangan aktivitas ospek yang dilakukan sangatlah jauh dari  tujuan ospek itu sendiri. Ospek yang diharapkan menjadi  tempat pembekalan mahasiswa malah dijadikan sebagai ajang peloncoan, ajang balas dendam  hingga  tidak heran jika terjadi akitivitas diluar moral seperti tindakan kekerasan, pelecehan sexual, yang bahkan berujung pada kematian seperti halnya yang dialami salah seorang  siswa SMP di bekasi (Merdeka.com/03/8/15),  serta aktivitas – aktivitas yang tidak berguna sama sekali, seperti harus menggunakan atribut kalung pete dan bertaskan karung beras.
Ospek sebagai Wadah Penyebaran Virus Liberal oleh Kelompok Liberal

Lain lagi di Kampus Islam, ospek malah dijadikan ajang penyebaran paham-paham liberalisme, sekuler dan pluralisme, kita tentu masih ingat ketika pada tahun 27 September 2004, di Fakultas Ushuluddin IAIN Bandung  pada masa ospek, seorang dari mahasiswa yang menjadi pembawa acara itu memulai dengan perkataan “Selamat bergabung di area bebas tuhan”, sedangkan jurusan Sosiologi salah satu diantara mereka mengatakan “kami tidak ingin punya tuhan yang takut pada akal manusia.” Dan yang lebih parah lagi adalah ketika seorang mahasiswa dari jurusan Aqidah Filsafat, mengepalkan tangan dan meneriakkan “Kita berdzikir bersama anjing hu akbar”, teriaknya lantang (Dr. Ardian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi,2009), tidak ingin kalah September 2014 mahasiswa dari Fakultas Ushuludin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya membententang spanduk dengan tulisan “Tuhan Membusuk”.
Menilik Sekilas Sejarah Ospek di Indonesia

Dari berbagai literatur, kegiatan mos atau ospek di Indonesia ternyata sudah ada sejak zaman kolonial Belanda, yaitu di Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (1898-1927). Kala itu, siswa baru harus menjadi “anak buah” bagi para senior untuk membersihkan ruangan kelas. Tradisi tersebut kemudian berlanjut pada era Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran (1927-1942). Di GHS, kegiatan itu menjadi lebih formal namun bersifat sukarela. Kedua institusi tersebut kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). (Brilio.com)

Setelah Indonesia merdeka, tradisi tersebut masih berlanjut dan diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan, kegiatan itu semakin terasa wajib. Maka, muncullah istilah MOS dan Ospek yang diberlakukan di sekolah dan kampus di seluruh Indonesia.

Tulisan ini tidaklah bertujuan memberikan stigma negatife  atau menumbuhkan negativity bias dengan sengaja terhadap ospek itu sendiri melainkan bertujuan untuk memperbaiki serta mengajak merumuskan konsep ospek yang lebih baik karena memang tidak semua kampus terdapat kejadian seperti itu,  pengertian ospek tetaplah baik berdasarkan terminologinya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa semua yang disebutkan diatas adalah fakta yang  terjadi akibat adanya pihak yang tidak bertanggung jawab serta tidak adanya perhatian dari pihak kampus. Hal tersebut  juga menunjukkan betapa lemahnya dan parahnya ospek  di dalam sistem pendidikan Indonesia.   Dan jika hal tersebut tetap dibiarkan akan berpengaruh terhadap mental dan karakter mahasiswa, mahasiswa akan lebih cenderung keras, serta melahirkan jiwa individualis dan yang lebih parah terbentuknya karakter liberal, sekuler, pluralism, lemah iman dan tidak percaya akan tuhan dikalangan  mahasiswa tersebut.

Akibat di Terapkannya Sistem Pendidikan Sekuler

Apa itu sekulerisme? Menurut Muhammad Qutb ( ancaman sekulerisme,1986) diartikan sebagai, Iqomatu al-hayati ‘ala ghoyri asasina mina al-dini( membangun struktur kehidupan di atas landasan selain sistem Islam). Dan An-Nabhani mengartikan, “Pemisahan agama dengan kehidupan, ide ini menjadi aqidah(asas), sekaligus qiyadah fikriyah (kepemimpinan ideologis) serta sebagai qaidah fikriyah ( landasan berfikir)” (Nizhamul Islam Al Quds,1953) atas dasar berfikir ini, mereka berpendapat bahwa manusia sendirilah yang berhak membuat peraturan hidupnya, dan sesuai dengan hawa nafsu serta akalnya yang sangat terbatas itu.

Sangat ironis. Jelas kondisi ini menimpa sistem pendidikan itu sendiri, dan hampir di semua negara bahkan negeri-negeri kaum muslimin terhadap dunia pendidikan mereka ketika ini, akibat dari apa yang disebut westoxciation (Racun Pemikiran Barat) yakni: pluralisme, sinkretisme, nasionalisme, liberalisme, kapitalisme, sekulerisme dan seabrek isme lainnya dan mencoba untuk melakukan imitasi bahkan subtitusi secara total atau melakukan pemblasteran ( perkawinan) antara Sistem Barat (Sekuler-Liberal) dengan Sistem Islam yang suci, fitrah dan mulia itu.

Ospek dalam Islam

Agar calon mahasiswa nantinya memiliki semangat  belajar, aktif, berkarakter  dan bermotivasi tinggi. Tentu perlu adanya perumusan konsep ospek yang dapat menjawab itu semua karena kita mengetahui bahwa perubahan seseorang dipengaruhi oleh pandangan hidupnya. Dan Islam menjawab itu semua. Adapun konsepnya adalah :

  1. Mengenalkan arti makna hidup sebenarnya. Di usia mahasiswa yang beranjak dewasa ditandai oleh kesempurnaan akalnya, sejak saat itu ia mulai berpikir tentang “keberadaan”nya didunia ini. Aktivitas Ospek menjadi kesempatan untuk mengajak calon mahasiswa  berpikir tentang “apa arti hidup”nya, karena banyak diantara mereka tidak tahu dan tidak mencari tahu pertanyaan mendasar tersebut, padahal hal itu sangat penting karena akan menjadi way of live dan peta hidup bagi seorang muslim.  Adapun pertanyaan mendasar tersebut adalah, dari manakah manusia dan kehidupan ini ? untuk apa manusia dan kehidupan ini ada, serta akan kemana manusia dan kehidupan setelah ini, (Arief B. Iskandar, Materi Dasar Islam,2011). Dan jawaban atas pertanyaan tersebut haruslah memuaskan akal, sesuai dengan firah manusia dan melahirkan ketentraman. Dan tentu semua jawaban tersebut ada pada Islam.
  1. Membuat resolusi kepada mahasiswa, setelah mahasiswa sadar akan hidupnya, mahasiswa harus membentuk resolusi didalam dirinya, yaitu mahasiswa harus menjadikan Islam sebagai standar perbuatannya,ia akan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, ia juga paham akan kewajiban  dakwah atas setiap individu tidak terkecuali mahasiswa dibidang iptek, tidak seperti saat ini yang terkotomi oleh jurusan seakan-akan kewajiban dakwah hanya di emban oleh mahasiswa yang mengambil jurusan agama.
  1. Mengenalkan kekuasaan Allah melalui setiap jurusan yang mahasiswa pilih, misalkan dibidang sains, tentang bagaimana alquran menjelaskan terbentuknya embrio, tentang astronomi dan lain-lain dengan begitu akan semakin kuat iman mereka terhadap Islam serta semakin cinta mereka dengan jurusan yang mereka pilih.

Secara jelas dan pasti Islam menjadikan tujuan (Goyah) pendidikan adalah melahirkan “Kepribadian Islam” dan membekali dengan pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan (An-Nabhani. Nizhamul Islam, Al-Quds 1953), sehingga metode penyampaian pelajaran dirancang sedemikian rupa untuk menunjang tercapainya tujuan dan setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut dilarang [baca:haram]. Dengan demikian pendidikan Islam tidak hanya “Transfer of Knowledge“, tanpa memperhatikan ilmu pengetahuan yang diberikan itu, apakah dapat menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku yang Islami atau tidak. Olehnya itu harus selalu terikat dengan Ide tentang kehidupan dan nilai-nilai kehidupan Islam yang selalu berputar pada lingkaran peningkatan Iman.

Konsepsi ini terbukti dan rill pada masa pemerintahan Khilafah Islamiyah. Tatkala Eropa terbelenggu dan terpasung oleh kebodohan, kejumudan dan hal-hal yang berbau mistis, kaum Muslim telah menikmati kamajuan sains dan ilmu pengetahuan yang belum pernah dijumpai dalam sejarah kemanusian sebelumnya. Jadi dalam kondisi sekarang ini, harus ada perubahan mendasar yaitu : “Perubahan Paradigma Pendidikan” meliputi: kebijakan pendidikan, kurikulum, metode pengajaran. Dan “Perubahan Konsepsi Ilmu” atau dengan istilah science Islamitation (Gerakan Islamisasi).

Dengan konsep tersebut diatas Insya Allah mahasiswa akan mempunyai karakter yang kuat karena mereka telah mempunyai pandangan hidup yang jelas. Wallahu alam bishawab.

OSPEK, Menakutkan?

Kampus Represif


Kebanyakan kampus saat ini tak ubahnya seperti sebuah negara yang represif, jika negara refresif terhadap masyarakatnya, maka sebuah kampus refresif terhadap mahasiswanya. Mahasiswa akan ditakuti dengan berbagai sanksi akademis, bahkan sampai kepada tindakan dikeluarkan oleh kampus jika ada mahasiswa yang sedikit saja lantang berbicara tentang perubahan, membongkar kedok pemimpin dan sistem yang bobrok.  Kampus juga membuat peraturan untuk melarang  sebuah pergarakan melakukan akitivasnya di dalam kampus.


Lucunya, beberapa dosen merekomendasikan agar mahasiswanya tidak hanya berkutat dibidang akademis, melainkan harus melakukan akvitas sosial organisasi untuk menunjang kecakapan mahasiswa. Maka diambillah alternative lain,  mahasiswa pun direkomendasikan untuk mengikuti “pencak silat, event organizer, panitia footsal, mapala, panitia lomba selfie, fotographer, grup sepedea santai, dan semacamnya yang skalanya sedikitpun tidak mampu membangkitkan mahasiswa. Tapi kalau ditanya untuk apa melakukan itu, maka dosennya menjawab “ Biar kamu besok mudah dapat kerja, mudah bersosialisasi dengan teman-teman kerja, agar kolom pengalaman organisasi di daftar riwayat hidup kamu terisi. Tidakkah ada doktrin yang lebih buruk dari itu 😀 Pantas kemudian di pikiran mahasiswa hanya berpikir bagaimana agar mendapatkan IPK tinggi.
Akhirnya tercetaklah mahasiswa yang cerdas dalam berlogika, cerdas dalam berbahasa, cerdas teori-teori ekonomi,  sains, sosial dsb. Namun mempunyai jiwa pragmatis, apatis, pantaslah ketika sudah 5 tahun lamanya kuliah begitu wisuda tidak mendapatkan kerja mungkin rasanya mau mati aja. 😀

Padahal kalau ingin kampus jadi popular maka seharusnya kampus mendukung suasana kebangkitan dilingkungan kampusnya, mendukung gerakan perubahan yang membawa negeri ini kearah yang baik, mendukung kajian-kajian, dialogika bahkan kalau bisa menyediakan sarana dan prasana. 😀  Bukankah ini yang dilakukan kampus popular yang ada diindonesia seperti ITB, UGM, IPB, UI, dan kampus lainnya. Sejarah Indonesia mencatat peran masjid Salman ITB, Jamaah Shalahudin UGM yang terkenal dengan kajian ramadhannya hingga menginspirasikan Ramadhan di kampus-kampus lain dan bahkan  merembes ke kampung-kampung di penjuru kota Yogyakarta, IPB hingga dikenal dengan sebutan Institut Pesantren Bogor. Kalaulah memang kampus ingin jadi popular maka harusnya kampus lain mengambil langkah yang sama, karena factor ini malah yang malah membuat kampus2 ini terkenal. Tapi apakah tujuan kampus memang hanya untuk popular ?

Tentu yang diharapkan lebih dari itu, berharap kampus bisa mencetak generasi berqualitas, juga mencetak generasi pendobrak peradaban.  


Salam Pembebasan, salam kehancuran demkrasi, tegakkan Ideologi Islam.
Menolak untuk diam, menyeru untuk bangkit.

Apa ideologi pergerakan “Gema Pembebasan”. ?


Tepatnya pada tanggal 05 September 2015 saya bersama teman-teman Gema Pembebasan lainnya melakukan aksi sebar leafleat yang bertemakan “siapa itu Gema Pembebeasan” pada saat penutupan ospek Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Pada saat yang sama pula, kami berjumpa dengan pergerakan mahasiswa lain yaitu Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) yang pada saat itu juga sedang memabagikan leafleat kepada mahasiswa baru. Alhamdulillah diselang pembagian selebaran kami juga sempat bercincang-bincang dengan teman-teman SMI sambil menukarkan leafleat masing-masing.

Saat membagikan seleberan kepada mahasiswa baru berbagai respon pun bermunculan, ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang meminta sendiri, ada pula yang menghindar, dan yang paling menyedihkan adalah ketika ada mahasiswa “mengucek-ucek” selebaran sehingga berbentuk bola kecil. Walaupun begitu tentu tidak semua cerita itu “menyedihkan”, beberapa jam setelah selesai menyebarkan leaflet salah satu teman saya menerima “invite” dari mahasiswa baru. Mahasiswa baru tersebut pun bertanya bagaimana prosedur pendaftaran  agar bisa menjadi bagian dari Gema Pembebasan.

Beberapa hari kemudian saya pun   menjumpainya di kampus setelah sebelumnya mahasiswa baru tersebut juga telah bertemu dengan salah satu teman saya, kami pun berbincang-bincang santai membicarakan tentang pergerakan mahasiswa dan permasalahan yang menimpa negeri ini. Dari beberapa menit perbincangan kami sepertinya mahasiswa baru ini telah mengenal banyak tentang pergerakan walaupun tentang Gema Pembebasan sendiri baru mengenal setelah mendapatkan leafleat yang kami bagikan.

Ada yang menarik dari pertanyaan mahasiswa baru ini, yang menurut saya pertanyaan ini jarang dipertanyakan oleh mahasiswa ketika ingin menjadi bagian dari pergerakan. Pertanyaannya adalah “Apakah Gema Pembebasan mengikuti Ahlu Sunnah wal Jamaah ?”. Menurut saya pertanyaan ini adalah pertanyaan kritis, bukankah pertanyaan ini menunjukkan betapa berhati-hatinya dia dalam memasuki sebuah pergerakan ? ditengah-tengah mahasiswa lain lebih sibuk memasuki kelompok-kelompok kemahasiswaan yang pragmatis seperti kelompok-kelompok music dan olahraga. Begitu juga bukankah malah banyak mahasiswa yang memasuki pergerakan tanpa mempertimbangan ideologinya, apakah berlandaskan ideologis islam, atau malah sosialis dan sekuler ?. Setelah tidak terasa waktu berlalu, perbincangan pun kamu tutup dan di akhir saya  mengajaknya untuk mengikuti Daurah Gema Pembebasan di Minggu selanjutnya.

Oleh sebab itulah pada tulisan ini saya ingin menjawab pertanyaan mahasiswa baru tersebut dengan mengutip dari buku yang berjudul “Cinta Indonesia Rindu Khilafah” yang ditulis oleh Muhammad Choirul Anam seorang dosen Fisika di Undip yang sedang menyelesaikan program S3 di ITB.

Sebagaimana telah diketahui bahwa saat ini banyak sekali aliran, mahzhab, kelompok, organisasi, dan haroqah (gerakan) Islam, termasuk di Indonesia. Bukan hanya sekarang, adanya aliran, madzhab, kelompok, aliran, organisasi, dan haroqah sekarang lebih menonjol. Dari aspek motivasi, tentu sangat beragam, namun kita husnudz dzon bahwa motivasi mereka adalah untuk mencari ridhlo Allah swt.

Diantara berbagai aliran, madzhab, kelompok, organisasi, dan haroqah, pasti ada titik persamaan, meskipun tak bisa dipungkiri ada beberapa titik perbedaan. Perbedaan yang terjadi memang lebih banyak dalam urusan furu’ (cabang), meskipun terkadang terjadi perbedaan pada wilayah yang qoth’i.

Suatu yang menggembirakan dari berbagai aliran, madzhab, kelompok, organisasi, dan haroqah Islam adalah adanya usaha untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (istibaq fil khoirat). Meskipun terkadang terjadi sesuatu yang menyedihkan, yaitu saling merendahkan, menyesatkan, dan saling mengkufurkan.  Terkadang ada yang merasa bahwa hanya kelompoknya yang ahlus sunnah wal jamaah, sementara yang lain bukan ahlus sunnah wal jamaah. Bahkan terkadang ada yang berkelompok, tapi merasa tidak berkelompok, lalu menuduh kelompok lainnya sebagai sesat karena berkelompok-kelompok.

Siapakah sebenarnya ahlus sunnah wal jamaah itu ? Apakah harus berebut nama dan saling klaim sebagai ahlus sunnah wal jamaah ? Apakah kita harus menuduh bahwa kelompok selain kita bukanlah ahlus sunnah wal jamaah ?

Sebelum membahas siapa sesungguhnya ahlus sunnah wal jamaah, ada pertanyaan yang mengelitik : wajarkah saling klaim bahwa kelompoknya adalah ahlus sunnah wal jamaah ? Menurut saya, mengklaim seabgai ahlus sunnah wal jamaah, itu sangat-sangat wajar. Sebab, sebagaimana sabda Nabi saw, bahwa nanti umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan dan semua masuk neraka, kecuali satu yaitu al-jamaah (ahlus sunnah wal jamaah).

Hadits tersebut diantaranya adalah hadist shahih riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim berikut :

“Umat yahudi terpecah menjadi 71 golongan, Nasrani terpecah menjadi 72 kelompok. Umat ini (Islam) akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka keculai 1 (satu) golongan (yang selamat)”. Nabi ditanya, “Siapa dia ya Rasulullah ?” Nabi saw. menjawab, “Yaitu golongan yang seperti aku dan para Sahabatku”. Dalam sebagian riwayat, “Dia adalah al jamaah”

Siapa yang tidak rindu surga ? Siapa yang tak takut dengan neraka  ? Padahal kata kunci untuk masuk surga haruslah menjadi al-jamaah. Oleh karena  itu, siapa saja yang mengklaim sebagai ahlus sunnah wal jamaah, Insya Allah, mereka adalah orang baik yang merindukan surga. Insya Allah mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah.

Namun, tentu saja, untuk menjadi ahlus sunnah wal jamaah atau untu masuk surga tidak cukuk hanya dengan klaim. Klaim dan pengakuan itu boleh-boleh saja, tetapi yang lebih penting haruslah diwujudkan menjadi amal nyata, dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat atau kehidupan bernegara.

Tibalah kita untuk membahas siapakah sebenarnya al jamaah atau ahlus sunnah wal jamaah ?

Sebenarnya, siapakah sebebarnya ahlus sunnah wal jamaah, itu tidak perlu dicari-cari jauh-jauh dan susah-susah. Sebab, defenisi al jamaah, disebutkan langsung oleh Rasulullah saw, dalam hadits tersebut. Saat para sahabat bertanya “ Siapa dia ya Rasulullah ?”. Rasulullah saw. memberikan defenisi yang sangat jelas, yaitu beliau mengatakan : “Yaitu golongan yang seperti aku dan para sahabatku.” Didalam hadits lain, beliau menjawab :”Ma ana alaiha ashabi (yaitu golongan yang mengikuti aku dan para sahabatku.”

Maksudnya, siapaun dari umat Muhammad yang mengikuti Rasulullah saw dan para sahabat beliau, Insya Allah mereka adalah kelompok yang masuk surga,k dialah ahus sunnah wal jamah. Tentu saja, apapun nama jamaah atau organisasi yang dia aktif didalamnya. Apakah mereka NU, Muhammadiyah, Salafy, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Musimin, Hizbut Tahrir, pergerakan mahasiswa, atau apapun namanya, selama mereka berusaha sekuat tenaga mengikuti Allah swt, Rasullah saw, dan para sahabat Nabi, Insya Allah mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah.

Sebaliknya, siapapun mereka, meskipun mereka berada pada kelompok yang namanya ahlus sunnah wal jamaah, tetapi tidak mengikuti Allah swt, Rasulullah saw dan para sahabat Nabi, maka mereka bukanlah ahlus sunnah wal jamaah.

Apakah ada umat Muhammad yang tidak mengikuti Allah dan mengikuti sunah Nabi saw, tetapi tidak mau mengikuti sahabat Nabi, bahkan mereka mencela para sahabat Nabi yahng mulia. Kelompok ini muncul terutamamulai saat kekhilafahan zaman Sayyiina Ali. Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa yang mencela sahabatku, maka atasnya laknat Allah, laknat malaikat dan laknat seluruh umat manusia.” Diriwayatkan ole ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabi (XII-142). Ibu Abi ‘Ashim dalam as –Sunnah (II/483), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (VII/103). Rasulullah saw juga berakata, “Janlah kalian mencela sahahatku. Seandainya ada salah satu dari kalian yang berintafak emas seberat gunung Uhud, maka tidak akan mengimbangi infak salah seorang diantara mereka, walaupun itu cuma satu mud/dua genggaman tangan, atau bahkan setengahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim ).

Diantara mereka, juga ada yang menjadikan Allah swt, Rasulullah dan sahabat Nabi hanya sebagai simbul. Tetapi dalam keseharian tidak mamu mengikuti Allah swt, Rasulullah saw, dan sahabat Nabi. Mereka lebih mengikuti orang-orang barat yang tidak mengikuti Allah swt dan Rasulullah saw. Diantara mereka, juga ada yang tak mau mengakui Allah swt, Rasulullah saw dan para Sahabat Nabi. Mereka lebih percaya dengan orang-orang barat seperti Adam Smith, David Ricardo, Niccolo Maciavelli, Kar Marx, Vladimin Lenin, Jhon Locke, JJ Rousseau, Friedrich  Engels, Friederich Hegel, Friedrich Nietzshe, Immanuel Kant, Bertrand Russel, John Stuart Mill, dan lain sebagainya. Ada juga yang mengikuti filusuf Yunani seperti Aristoteles, Plato, Socrates, Democritus, Thales, Phytagoras, dan lain-lain.

Diantara mereka ada yang menjadi pengikut para pendeta, para biksu, para resi dan lain-lain. Ada juga yang menjadi pengikut tokoh-tokoh local, tanpa memperdulikan lagi kesesuaian dengan al qur’an, as-sunnah dan ijma’ para sahabat.

Mereka itu bukanlah ahlus sunnah wal jamaah. Seandainya mereka mengklaim seabagai ahlus sunnah wal jamaah, maka klaim tersebut tidak ada artinya sama sekali.

Mungkin muncul pertanyaan, jika berbagai madzhab, kelompok, organisasi, dan haroqah Islam itu memang mengikuti Allah swt, Rasulullah saw, dan para sahabat Nabi, mengapa mereka bisa berbeda pendapat ?

Jawabnya : tentu saja bisa, Mereka semua adalah manusia yang memiliki pengalaman, tingkat intelektualitas, latar belakang, dan banyak hal yang berbeda. Juga dalam nash-nash syariah, terdapat banyak yang dzanni, yang memungkinkan dipahami bebeda. Selama perbedaan itu dalam masalah furu’, maka tidak masalah dan tidak mengeluarkan mereka sebagai ahlus sunnah wal jamaah. Namun, jika perbedaan mereka sampai pada masalah yang qoth’I, tentu saja mereka tidak bisa dikategorikan sebagai ahlus sunnah wal jamaah.

Kelompok Ahmadiyah yang  menganggap Ghulam Ahmad sebagai nabi, beberapa kekompok Syiah yang menghina para sahabat Nabi, beberapa kelompok liberal yang menolak Islam, dan lain sebagainya, tentu mereka bukan ahlus sunnah wal jamaah. Sebab, mereka berbeda dalam masalah yang qoth’i.

Sedangkan dalam masalah yang dzanni, maka perbedaan itu suatu hal yang  wajar. Bahkan sahaba Nabi yang mulia sekelas Abu Bakar dan Umar, beliau juga sering berbeda dalam masalah dzanni. Misalnya, keduanya berbeda pandangan dalam masalah memerangi mereka yang ingkar mermbayar zakat. Mereka juga berbeda pendapat mengenai harta rampasan dan mengenai menjadikan istri-istri mereka sebagai budak. Mereka juga berbeda pandangan dalam hal pengiriman tentara Usaman bin Zaid, juga mengenai pergantian jabatan Khalid bin Walid ra. Sebagai pemimpin tentara, Bahkan walapun Umar ra. Mendesak pergantian jabatan Khalid bin Walid, Khalifah Abu Bakar sendiri enggan melakukannya, Namun ketika Umar menjadi Khalifah, ia langsung mencopot jabatan Khalid ra. Dan menggantikannya.

Perbedaan pendapat di kalangan para sahabat Nabi, bahkan sudah ada sejak Nabi saw. masih hidup. Sebagaimana perbedaan mereka dalam menyikapi perintah Nabi pada waktu Perang Ahzab untuk tidak shalat Ashar, kecuali di Bani Quraizah, sebagian mereka masih diperjalanan ketika masuk waktu Ashar. Sebagian sahabat Nabi perpendapat bawha mereka tidak akan sholat Ashar, kecuali setelah sampai di Bani Quraizah sesuai perintah Nabi saw, Sedangkan, sebagian yang lain berpendapat bawha mereka harus tetap sholat  Ashar karena menurut pemahaman mereka, perintah Nabi itu bertujuan agar mereka mempercepat perjalanan sehingga bisa menunaikan  sholat Ashar di bani Quraizhah, bukan harus shalat di tempat itu. Para sahabat Nabi berpegang pada kode etik yang kuat dalam menghadapi perbedaan di kalangan mereka, yaitu keputusan finalnya diserahkan kepada Nabi saw setelah perbedaan tersebut disampaikan kepada beliau, Nabi saw membenarkan sikap kedua kelompok sahabat Nabi tersebut.

Tentang masalah khilafiyah ini, dapat dilihat secara panjang lebar dalam kitab Syeikh Muhammad Syuwaiki dalam kitab Al-Kholas wa Ikhtilatu An-Naas.

Jadi, meskipun ada perbedaan madzhab, kelompok, organisasi dan haroqah Islam, tentu tidak mengeluarkan mereka dari ahlus sunnah wal jamaah, selama mereka tetap berpegang teguh sekuat tenaga kepada Allah swt, Rasulullah saw, dan para sahabat Nabi yang mulia.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang hidup sepeninggalku maka dia  akan melihat banyak perselisihan Oleh sebab itu, wajib atas kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang berpetunjuk. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian. Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi berkata : hadits hasan shahih).

Ikutilah Allah swt, Rasulullah saw dan Khulafa’ ar-Rasyidin sekuat tenaga, itulah yang menjadikan kita sebagai ahlus sunnah wal jamaah. Mengikuti di sini, tentu dalam semua aspek kehidupan. Bukan hanya maslah sholat, puasa, zakat, dan haji. Tetapi semua aspek kehidupan, termasuk dalam masalah politik dan pemerintahan. Ikutilah Allah swt, Rasulullah saw dan para sahabat, tidak perlu saling klaim, apalagi rebutan gelar ahlus sunnah wal jamaah.

Maka, sungguh aneh, jika ada umat yang mengaku ahlus sunnah wal jamaah, tetapi justru menolah Khilafah. Padahal ahlus sunnah wal jamaah pasti mengikuti Khulafa’ ar-Rasyidin dan mengigit dengan gigi gerahamnya agar tidak lepas.

Wallahu a’alam.

The Failure Era


Prof. James Duderstadt dalam The University for the 21st century, berkata bahwa sekarang ini adalah the age of abundance knowledge, era dimana manusia telah memproduksi ilmu pengetahuan dengan kecepatan yang mengagumkan dan dalam jumlah yang berlimpah ruah.

Sebagai gambaran, pada abad 12, Ibnu Rusyd (dikenal di Barat sebagai “Averroes”), menginisiasi penemuan tentang ilmu hukum gerak benda yang kemudian menginspirasi Isaac Newton 500 tahun setelahnya. Dari situ, orang kemudian mengenal mekanika ala Newton. Namun pada awal abad 20, Einstein membuat sebuah mekanika baru, yang didasarkan pada Relativitas Umum Einstein. Mekanika yang baru ini kemudian mengambil hati banyak ilmuwan abad 21 untuk semakin menelitinya. Bisa kita amati, hadiah Nobel pada tahun-tahun belakangan ini banyak diraih oleh peneliti fisika kuantum.

Hal tersebut secara sederhana dapat dijelaskan dengan teori kombinasi. Semakin banyak hal (temuan) baru, maka akan semakin banyak yang bisa dikombinasikan. Maka perkembangan cabang-cabang ilmu  adalah hal yang tidak terelakkan oleh zaman.

Kemajuan luar biasa tersebut ternyata kontras dengan kualitas kehidupan ummat manusia di dunia. Meminjam istilah Dr. Nopriadi, seorang ahli robotik dari UGM, bahwa sekarang ini adalah The Failure Era atau Era Kegagalan, yakni era dimana ilmu (sciences) berkembang pesat namun tidak berbading lurus dengan tingkat kesejahteraan ummat manusia.

Fenomena nya memang seperti itu. Bayangkan saja, bahwa sebanyak 40% populasi dunia hanya menguasai total 5% harta sedunia, 22 ribu anak kecil tewas pertahun akibat kemiskinan, 2/3 penduduk bumi yang kekurangan air hidup hanya dengan kurang dari 2 dollar per hari, dan sebagainya, adalah fakta nyata di bumi tempat kita tinggal. Belum lagi masalah lingkungan, kesehatan, kriminalitas, dan akses pendidikan. Suatu ironi peradaban manusia di tengah gelimang perkembangan iptek yang ultra pesat.

Pada era kegagalan ini tidak semua yang kita anggap ‘sukses’ hidupnya bahagia. Bagaimana tidak, banyak kita temui fakta bahwa orang-orang yang sudah berada di puncak karir yang kemudian mengakhiri hidupnya dengan tragis. Tengok saja Whitney Houston, seorang penyanyi top era 90’an harus mengakhiri hidupnya dengan overdosis narkoba. Alan Turing, seorang pakar kriptanalis yang sukses mengurai kode Enigma buatan NAZI meninggal karena bunuh diri dengan racun. Aktor kawakan Hongkong, Leslie Cheung, bunuh diri dengan melompat dari lantai 24 Mandarin Oriental Hotel. Marilyn Monroe, artis terkenal Amerika tahun ’50an mengembuskan napas terakhir karena bunuh diri akibat depresi. Dan masih banyak lagi. Di tengah derap perkembangan iptek yang pesat, ternyata ummat manusia masih tinggal di dunia yang kualitasnya masih jauh dari harapan.

Mahasiswa tempat berharap

Tiada tempat bertumpu bagi suatu peradaban untuk masa depannya kecuali pada generasi mudanya, termasuk mahasiswa. Sayangnya, dunia pendidikan kita masih dihadapkan pada segudang permasalahan yang kompleks. Meski kualitas dan kuantitas pendidikan kita sedang digenjot, nyatanya output peserta didik kita masih jauh dari harapan. Anggaran pendidikan di negara kita mencapai 20% dari APBN, termasuk yang paling besar. Namun angka tersebut ternyata masih dirasa kecil oleh pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta Prof. Soedijarto. Menurutnya, angka ideal anggaran pendidikan adalah 36% dari APBN.

Terlepas anggarannya sudah ideal atau belum, nyatanya generasi muda kita masih minim akses pada perguruan tinggi. Hanya 23% lulusan SMA yang cukup beruntung yang bisa menikmati bangku kuliah. Angka angkatan kerja 10 tahun terakhir di Indonesia bahkan didominasi oleh lulusan SD, yakni sekitar 50% atau setengahnya!

Itu dari segi kuantitas, dari segi kualitas jelas mahasiswa kita masih dihadapkan pada mutu perguruan tinggi yang masih seadanya. Menteri Pendidikan Anies Baswedan mengatakan bahwa 75% sekolah di Indonesia masih belum mencapai standar. Kemudian menurut The Learning Curve, Indonesia berada di peringkat 40 dari 40 negara yang diteliti, pada pemetaan kualitas pendidikan. Pendidikan Indonesia masuk dalam peringkat 64, dari 65 negara yang dikeluarkan oleh lembaga Programme for International Study Assessment (PISA), pada tahun 2012.

Kehadiran satu dua putra emas seperti Habibi, Ricky Elson, atau Khoirul Anwar memang bisa diacungi jempol. Namun iklim politik yang tak bersahabat kadang membuat kita geram. Inovasi-inovasi manusia berkualitas kita akhirnya harus kandas akibat ulah petualang demokrasi yang lebih memilih memperkaya diri dan golongan mereka dengan culas.

Namun kehadiran kaum terdidik di negeri kita masih digadang-gadang dapat memberi harapan bagi kebangkitan negeri. Menteri Pendidikan era SBY, Muhammad Nuh, mengusahakan agar jumlah angka lulusan SMA yang jadi mahasiswa mencapai 30%. Dari segi kualitas, dosen-dosen kini dihadiahi dengan berbagai macam beasiswa dalam dan luar negeri. Mahasiswa kita digenjot iklim berkaryanya dengan kegiatan dan lomba-lomba penelitian.

Mengokohkan Era Kegagalan

Era kegagalan sudah terlanjur terjadi. Generasi muda kita tidak bisa lagi melihat bahwa satu-satunya solusi adalah dimulai dengan memperbaiki kualitas pendidikan maupun iptek. Nyatanya, sudah banyak kisah pilu negeri ini ketika iptek harus dikalahkan oleh kebijakan oknum yang mengejar keuntungan pribadi.

Tentu kita mengenal kisah pesawat N250 yang digagas oleh salah satu putra terbaik bangsa, Pak Habibie.  Ide cerdas produksi pesawat yang diklaim hasil karya anak bangsa tersebut harus kandas di tengah krisis ekonomi yang membuat Indonesia menjadi pasien IMF. Proyek-proyek teknologi ditinjau ulang.  IPTN yang kemudian jadi PTDI dibiarkan bangkrut.  Ribuan karyawannnya dirumahkan, dan ratusan tenaga profesional yang dulu disekolahkan ke luar negeri dengan hutang Bank Dunia ramai-ramai hengkang ke Luar Negeri.  Lobi-lobi internasional membuat pesawat N250 tidak diberi sertifikat terbang oleh otoritas dunia, sehingga pemasarannya seret. Dari sini kita belajar bahwa kemajuan iptek memang harus dibarengi dengan sikapmelek politik bahkan ideologi.

Di tambah lagi, iptek di tengah rimba kapitalisme saat ini hanya dijadikan alat jajahan baik secara militer, politik, bahkan ekonomi. Keberhasilan ilmuwan dan insinyur menciptakan teknologi senjata ternyata hanya dijadikan ‘alat perdamaian’ yang standarnya ditentukan oleh sebuah negara adidaya. Di sekitar kita, beredarnya mobil murah dari negeri Sakura adalah buah tangan iptek yang dipaksakan untuk jalan-jalan yang sudah sesak di kota-kota besar di Indonesia. Sumber daya alam negeri yang begitu melimpah akhirnya dikeruk habis-habisan oleh alat-alat berat yang semakin canggih dan masif ukurannya. Anak-anak kita sedang dikeroyok teknologi informasi di tengah abainya orang tua yang tersibukkan oleh sistem.

Berbagai solusi perbaikan kualitas pendidikan dan iptek negeri tidak bisa sendiri dalam menyelesaikan persoalan bangsa apalagi ummat manusia. Dibutuhkan sebuah mindset baru dalam mengelola peradaban yang tentu berimplikasi pada suatu penerapan sistem yang baru. Sistem yang menghendaki kebangkitan tidak hanya oleh dan sebagai satu bangsa saja, namun kebangkitan yang menebar rahmat bagi semesta alam.

Maka mahasiswa harus memulai langkah kebangkitan dengan merenungi lagi apa yang sejatinya harus dikejar. Menjadi ahli teknologi saja tidak cukup untuk memperbaiki nasib 7 milyar penduduk bumi. Mari merenung, apakah kita hanya akan sekedar menjadi robot iptek atau menjadi agen perubahan dunia. Apakah hanya akan menjadi sekrup kapitalis atau menjadi pejuang revolusi ideologis. Apakah akan mengokohkan era kegagalan atau malah mengakhirinya. [tomas -kampusislami.com]

#Student4Khilafah 17-18 October

Sumber:

Mind Mapping


Apakah selama ini anda mengalami kesulitan dalam memanajemen waktu ? atau sebaliknya anda malah bingung  hendak melakukan aktivitas apa ? kemudian pernahkah anda mengalami kesulitan dalam membuat sebuah pekerjaan lalu berdampak kepada tidak maksimalnya hasil sebuah pekerjaan anda ? Sudahkah anda membuat  daftar planning anda secara detail dimulai dari jadwal harian, bulanan dan tahunan ? Apakah kegiatan harian anda sudah dipenuhi dengan aktivitas yang bermanfaat, atau malah dipenuhi dengan aktivitas mubah (rugi bro…) atau yang lebih parah anda malah memenuhi harian anda dengan aktivitas maksiat ? Astaghfirullah, ayo kita toban gan..  hidup didunia hanya sementara, jangan loe kira kita gak mati-mati.  Saya jadi ingat sebuah Hadist.

“Abbas ra, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bahwasanya beliau berkata kepada seseorang laki-laki untuk menasehatinya : “Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangya) lima (keadaan yang lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu”. HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi.

Sobat-sobat pasti pernah mendengar penyeselan seseorangkan ? Misalkan ada Bapak-bapak bilang “Nak sekolah baik-baik ya, jangan seperti Bapak Cuma tamat SD, Bapak menyesal coba dulu Bapak rajin belajar, pasti hidup Bapak tidak semenderita saat ini”.  Saya ingatkan sekali lagi bro, jangan biarkan kamu mengulangi kalimat yang serupa  pada saat kamu udah jadi  kakek-kakek atau nenek-nenek nanti.

Saya kira udah cukup mukadimahnya, saya juga sudah puas menceramahi sobat-sobat :p.

Pada catatan kali ini saya ingin membantu teman-teman dengan memberikan beberapa tips, trik, atau postulat dalam memanajemen waktu dan menentukan aktivitas apa sih yang harus sobat lakukan.  Untuk lebih memudahkan saya akan membagi kedalam dua pemahasan, pertama Mengumpulkan semua daftar aktivitas, kedua menyusun dan menentukan jadwalnya.

  1. Mengumpulkan daftar Aktivitas

Untuk mengetahui apa-apa saja aktivitas teman-teman, atau yang masih bingung hendak melakukan aktivitas apa (faktanya masih banyak juga yang bingung mau melakukan apa) ada baiknya teman-teman mengumpulkan daftar aktivitas berdasarkan pertimbangan “wajib, sunah, mubah, makruh,haram”, “jangka pendek-panjang”, dan tambahan projek yang ingin anda kerjakan.

  1. Berdasarkan sifat “wajib, sunah, mubah,makruh,haram”. Misalkan sobat-sobat ingin menyusun target,sobat-sobat harus memprioritaskan  hal yang paling urgen atau “wajib”  terlebih dahulu. Misalkan sobat-sobat belum lancar dan salah-salah dalam membaca alquran, maka ini menjadi masalah yang paling urgen untuk terlebih dahulu teman-teman selesaikan. Begitulah gambarannya dan kumpulkan semua aktivitas yang menurut teman-teman wajib untuk di kuasai. Selanjutnya teman-teman kumpulkan daftar aktivitas yang bersifat “sunah”, misal membaca, menulis,  hafalan dan sebagainya.

Kuncinya “Mengutamakan yang wajib,memperbanyak sunnah, kurangi aktivitas yang bersifat mubah, dan hindari aktivitas yang bersifat makruh apa lagi haram.”

  • Untuk aktivitas jangka pendek-panjang,teman-teman bisa menyusun berdasarkan mana yang harus terlebih dahulu dikerjakan, misalkan tugas kuliah, pesanan-bisinis, dan sebagainya.
  •    Tambahan Projek lain, pada bagian ini teman-teman bisa menambahkan projek apa yang ingin teman buat. Kalau saya, pada saat menulis ini memiliki projek membuat situs bisacoding.com sebuah portal yang isinya membahas tentang dunia IT dan Pemrograman.
  • Menyusun dan Menentukan Jadwalnya.

    Sebelumnya saya menyarankan sobat-sobat untuk mendownload tool untuk memetakan (Mind Mapping ) aktivitas sobat, sobat bisa download disini. Atau sobat juga bisa menulis manual dengan kertas berdasarkan kreasi sobat.  Untuk selanjutnya sobat bisa membuat  seperti gambar dibawah ini :

     

    Screenshot_4 Screenshot_5 Screenshot_6 Screenshot_7

    Itulah postulat dari saya untuk sobat, saya jamin kalau sobat melakukannya dengan konsisten maka hidup sobat pasti akan berubah dan lebih bermakna lagi. Dengan menerapkan postulat ini berarti sobat sudah memulai melangkah menjadi orang sukses. Karena tokoh-tokoh besar juga menerapkan postulat ini. Selamat beraktivitas sobat.. 😀