Apa yang membuat orang tidak berubah ?


man-looking-up_23-2147799045image source : freepik.com

Di yogya, dan dikota lain juga pasti ada, saya sering melihat pemungut sampah, pernah juga melihat orang minta-minta di teras alfamart atau indomaret padahal dari segi tenaga sebenarnya mereka bisa mengerjakan pekerjaan lain.

Nah pertanyaannya kenapa ya mereka mau kayak gitu ? Jika teman-teman punya pertanyaan seperti itu, sepertinya teman-teman aman udah pasti didalam hidup teman-teman gak akan jadi kayak gitu. Kok gitu ? kitakan gak tau masa depan ?

Soalnya  jawaban teman-teman itu adalah gambaran mental teman-teman. Ketika teman-teman menolak jadi profesi ini atau itu, pasti teman-teman gak akan menjadi kayak itu. karena pikiran dan mental tersebut membatasi teman-teman ke arah yang tidak teman-teman inginkan.

Jadi sebenarnya berubah atau tidak berubahnya seseorang ada pada pikiran dan mentalnya sendiri.

Salah satu sebab seseorang tidak berubah lainnya adalah gini, untuk berubah kan seseorang berpikir, nah untuk berpikir agar berpikir berubah saja pun gak pernah dipikirkan, atau gak sampek. Nah yang kayak gini solusinya harus dipantik dari luar, caranya dengan membaca, konsultasi atau meminta pendapat orang lain.

Next selanjutnya ada zona nyaman. Apa yang saya ceritakan di pertama tadi adalah contohnya. Jadi kehidupan menjadi pemulung, minta-minta menurut dia nyaman. dari situ dia bisa hidup. Tapi dia gak pernah berpikir sekalipun untuk berubah. Okelah misal kita dalam kehidupan yang sangat sulit sehingga kita harus jadi pemulung dan minta-minta, tapi harusnya kita berpikir, kita gak boleh kayak gitu selamanya. kita harus bangkit. Dari pemikiran itulah kemudian membuat kita menyusun strategi  selanjutnya. Uang hasil dari pemulung kita kumpulkan, kemudian kita jadikan modal lalu kita bukak usaha model lain ntah jualan atau apa.Dengan begitu  kita berhasil kabur dari zona nyaman yang sebenarnya gak aman.

Pemikiran tersebut sebenarnya ada pada setiap orang, ada pada setiap situasi yang dia alami. Misalnya kita nih sebagai mahasiswa, kita mungkin masih dapat kiriman dari orang tua kita. Namun sebagian dari orang berani keluar dari zoman nyaman tersebut. Dia kemudian menyusun strategi bagaimana agar bisa mandiri sendiri.

Contoh lainnya gini. Kenapa ya yang ini kaya sedangkan yang ini nggak. Salah satu yang menyebabkan kita gak berubah adalah karena situasi kita, profesi kita, atau justru kecintaan kita. Kita bisa melihat banyak orang pintar yang hidupnya biasa aja itu disebabkan karena mungkin dia udah cinta dengan profesinya sendiri. misalnya jadi guru, jadi karyawan dan sebagainya. Kehidupan sehari-hari mereka terus saja begitu, mereka dapat gaji bulanan yang peningkatannya cukup lambat.

Lalu bagaimana orang menjadi kaya ? nah lagi-lagi kuncinya ada pada mental dan tentunya kerja keras. Seorang guru, karyawan bisa kok kaya. Jika mereka punya pemikiran bagaimana cara agar pendapatan bertambah. Maka mereka bisa cari kerjaan sampingan lain, mereka sisihkan gaji mereka, mereka kumpulkan uang untuk jadi modal, nah dari modal tersebut kemudian dijadikan usaha, keuntungan usaha tersebut kemudian diputar ke bisnis lain, ntah bisa bukak usaha model lain, beli kebun sawit, buat kontrakan, atau memperbesar usaha yang ada. Jadi gajinya bisa dobel, satu dari profesi satu lagi dari usahanya.

Sebagai mahasiswa pun begitu, mulai dari sekarang kita harus udah berpikir apa yang harus kita lakukan saat kita udah lulus nanti. Apa yang saya pikirkan ? Kalau saya, saya akan cari pekerjaan dibidang IT, misal gak lolos, cari lagi, kalau gak, coba kerjaan lain, pekerjaan pasti selalu ada. Kalau dikampung gak ada kerjaan, merantau kekota orang. Kalau gak mau merantau, buat usaha sendiri dikampung, kerjaan apa saja, jangan malu toh itu cuma awal, itu cuma batu loncatan ke loncatan lainnya menuju yang lebih baik.

Saya juga pernah berpikir gini, benarkan menjadi mahasiswa membuat saya jadi dewasa ? kok sepertinya menjadi mahasiswa membatasi saya bergerak, sampai udah semeseter ini masih juga belum bisa menghasilkan banyak uang. Padahal banyak teman yang nggak kuliah, kemudian mereka langsung memulai untuk bekerja, saat ini mereka udah bisa beli ini dan itu. Tapi kita harus bisa mengetahui kita kuliah sebenarnya bukan hanya untuk cari uang, kalau cuma untuk cari uang mending nggak usah kuliah, cari kerja aja langsung. Atau kalau nggak kita bisa cari jalan tengah, kita kuliah tapi kita juga nyari uang tambahan walapun nggak seberapa.

Jadi kuncinya adalah kita harus punya mental, kita harus mau berubah, kita harus kerja keras dan jangan merasa puas dengan zona nyaman yang sebenarnya tidak aman.

Diakhir tulisan ini saya ingin sampaikan bahwa saya bukanlah bermaksud lebih sok pintar, atau meremehkan hal-hal tertentu. Saya juga masih perlu banyak belajar. bagi saya tulisan ini sebagai pengingat agar suatu saat kelak bisa mengingatkan saya sendiri agar bisa menjadi lebih baik.

Iklan

Quora untuk Wilayah Indonesia Release!


Sebenarnya saya udah lama tahu tentang quora, sebuah media sosial tempat bertanya secara baik. Dan kabar baiknya sekarang udah ada versi indonesia, dan saya langsung mendaftar. Menurut saya media ini sangat bermanfaat. karena komunikasi yang berkualitas.

Kita juga bisa mendapatkan pertanyaan dari orang yang kita inginkan, misalkan langsung ketokoh atau orang ahli dibidangnya.

Begitu kamu mendaftar di quora, kamu pasti merasakan keanehan, orang yang suka baca pasti merasakan seperti ada daya tarik. karena setiap pertanyaan dan jawabannya sangat menarik.

Pokoknya keren…

Muhasabah “Untuk Para Calon Programmer”


1-zVshAABkhBicBX2CxFOygQ.jpeg

“Menjadi Programmer atau tidak sama sekali”.

Itulah kata-kata yang tiba-tiba masuk kedalam pikiran saya. Saya berpikir tentang diri saya, apakah saya layak menjadi seorang programmer ataukah tidak. Ibaratkan sebuah durian, ternyata saya hanya menikmati aromanya saja. Saya sibuk dengan mengikuti teknologi programmer baru, tool baru, atau framework baru, saya bahkan menulis artikel tentang programmer, membagikan artikel-artikel difacebook, namun saya lupa esensinya. Kesadaran itu bermula dari ada beberapa teman yang mengira saya bisa dalam programmer, katanya dia sering melihat saya sharing masalah IT difacebook.

Kejadian itu menyadarkan saya ternyata selama ini saya hanya menikmati aromanya “programming” saja. Dan saya bersyukur atas kesadaran tersebut. Artikel ini akan menjadi penguat dan pengingat bagi saya, bahwa setelah ini saya akan belajar lebih giat lagi.

Saya juga yakin banyak teman-teman yang mengalami hal sama seperti saya, hobi membahas teknologi baru, ngeshare artikel dimedsos, tapi nyatanya gak bisa apa-apa.

Ada juga tipe orang yang gak konsisten, hari ini belajar bahasa a, besok belajar b, besoknya lagi tiba-tiba belajar framework. Tiba giliran diminta buat projek, eh ternyata gak bisa.

Apakah kita tega membiarkan hidup kita hanya berkutat pada aromanya “programming” saja ?.

Hanya ada dua pilihan “menjadi programmer beneran atau tidak sama sekali”.

Mari kita tobat…

Galau Malah Bisa Buat Produktif, Kok Bisa ?


Semua insan didunia ini pasti pernah merasakan yang namanya galau, ntah itu galau karena kegagalan, masalah cinta, atau yang lainnya.

Dan ketika udah lagi galau setiap orang juga punya cara untuk mengontrol emosinya. Ada yang traveling, memancing, nonton dan lain-lain.  Nggak sedikit jugak yang malah menutup diri seperti tidur, melamun dan sebagainya. Tergantung orangnya.

Terus tadi katanya galau bisa buat produktif, gmana ceritanya tuh ?

sebelum masuk kepembahasan, saat kita galau baiknya kita intropeksi diri dulu, misal apa sih yang membuat kita gagal?. Kemudian berdoa kepada sang pencipta kita, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik  buat kita. Jadi bisa dibilang ini point pertamanya hehe. (Sambil dakwah hehe)

Masuk ke pembahasan. Jadi dulu saya pas SMK saya punya teman yang kebiasaannya unik ketika dia lagi galau. Jadi kata teman-teman kalau si dia lagi galau, dia bakalan melakukan aktivitas bersih-bersih. Jadi kalau udah gotong royong disekolah teman lain pada ngejek “buat si A galau oi, biar bersihkannya semua kelas ini”.

Terus  kemarin-kemarin ada teman yang tiba-tiba curhat. Jadi dia inbox saya via WA, intinya katanya dia galau selalu ingat mantan. Sepertinya dia masih cinta, tapi sakit hati sama kekasih lamanya itu. Bahasa kerennya Antara Cinta dan Benci.

Terus sebagai teman yang baik, aku pun jawab pesan itu. Walaupun sebenarnya saya gak bisa jawab sih. Saya malah memberikan solusi lain.

Jawaban ku kurang lebih kayak gini :

Kayaknya kamu mesti deh punya kayak keahlian gitu. Kamu cari dulu hal-hal yang kamu suka terus geluti sampai kamu bisa. Contohnya saya punya teman cewek yang dia hobi merajut, ada juga yang hoby merangkai bunga. Yang laki-laki ada yang hobi menggambar buat karakter anime, ada juga buat ornament text, ada juga yang hobi buat gambar doodle. Nah biasa teman-teman saya menyalurkan hobi ini pas waktu-waktu weekend.

Nah, menurut saya pas lagi galau juga cocok melakuin hobi-hobi kita. Yang bisa merajut, nanti hasil rajutannya bisa dihadiahkan sama keluarga, atau teman. Misalnya kayak gitu.

Saya jadi teringat salah seorang tokoh IT yang berpengaruh di Indonesia, beliau adalah dosen ITB Pak Budi Rahardjo, beliau orang yang sangat sibuk, seorang dosen, pembisnis, hobi nulis juga. Jadi diwaktu weekend dia menyalurkan hobinya, hobinya adalah bermain gitar.

Jadi apa aktivitasmu pas lagi galau ? hehe.

Dapat Nilai C, Jangan Galau


Apakah nilai C menunjukkan seseorang tersebut tidak berkompoten ?

Jawaban saya sederhana, nilai yang didapat itu dipengaruhi oleh suasana saat itu, dengan kata lain nilai tersebut adalah pengukuran terhadap kemampuan seseorang pada periode semester itu, atau pada hari-h ujian tersebut. Sedangkan pada periode saat ini kita nggak tau, apakah seseorang tersebut masih paham konsepnya atau nggak.

 

Dimasa kuliah, kalau nilai kita jelek biasanya kita dikasih kesempatan ngulang. Tapi dalam kondisi yang udah terlalu lama di kampus, kita udah bosan dikampus membuat kita malas mengulang matakuliah tersebut. Sehingga kita mebiarkan saja nilai kita ditranskip dengan nilai seadanya.

 

Nah kalau nilai kita jelek jangan galau. Karena  sebenarnya kapan pun kita masih bisa belajar lagi materi/matakuliah yang dulunya kita gagal.   Jadi nilai kita mungkin C tapi karena kita udah belajar giat, akhirnya kita mampu/menguasai matateri tersebut bahkan bisa jadi lebih paham lagi karena kita belajar atas motivasi atau dorongan dalam diri kita sendiri.

 

Itu sebabnya, ketika kita melamar pekerjaan pihak perusahaan nggak hanya melihat IPK doang. Tapi juga ngasih uji coba tertentu apakah sipelamar tersebut memang mempunyai skill atau tidak.

 

Saya sendiri ada matakuliah  saya  yang nilainya C, tapi saya nggak mengulang mata kuliah tersebut karena saya lebih mempertimbangkan cepat lulus. Dulu saat saya ngambil mata kuliah tersebut saya merasa seperti nggak menjiwai bahkan sampek lupa saat itu kuliah aku ngapain aja. Tapi sekarang saya malah mempunyai kesadaran dari dalam diri sendiri untuk bisa memahami kembali materi tersebut. Dan rasanya seru banget, merasa lebih puas, merasa lebih paham. Saya nggak tau kalau diujikan lagi dengan soal UTS/UAS saya lulus atau nggak. Tapi yang lucu justru saya sering diminta sama teman-teman untuk menyelesaikan soal-soal dari mata kuliah tersebut padahal nilai saya C. Iya dulu nilainya C, nilai C itu kemampuan pada masa semester itu beda sama kemampuan sekarang.

 

Terus kalau misal ditanya saat interview kok bisa nilai matakuliah nilai C, teman-teman bisa langsung jawab aja “Saya memang dapat nilai C, tapi setelah itu saya belajar lebih giat dan saya siap diuji untuk menunjukkan bahwa kemampuan saya bukanlah seperti kemampuaan saya saat nilai C dahulu.  (tapi betulkan ada pertanyaan kayak gitu ? hehe)

Bebal


Lagi-lagi saya tertarik nulis tentang masalah karakter (self development). Karena bagi saya pengembangan karakter itu penting, karakter mempengaruhi kesuksesan pribadi seseorang, karakter juga berdampak terhadap lingkungan sosial, bahkan bernegara. Karakter suatu masyarakat mempengaruhi kemajuan sebuah negara.  Tindakan korupsi salah satu contoh buruknya suatu karakter manusia yang merugikan negara dan manusia-manusia lain.

Lalu bagaimana bisa terbentuknya karakter buruk ?

Bisa jadi karakter buruk terbentuk karena pengaruh lingkungan, kesalahan metode pendidikan, bahkan bisa jadi kurangnya pendidikan ditingkat keluarga atau paling parah kita memelihara karakter buruk tersebut. Kita bebal, kita mempertahankan karakter buruk kita. Karakter seperti apa ? Contoh kecilnya kita sering buang sampah sembarangan, melakukan cara-cara curang untuk meraih suatu hal, mempertahankan sikap malas, sulit untuk dimintai tolong. Sebagian enggan mau menolong karena dia anggap itu pemanfaatan, tidak ada rasa positif sedikitpun padahal menolong itu ada nilainya dalam kepercayaan kita sebut dengan pahala.

Akan semakin parah ketika kita terus menyuburkan persepsi ‘menolong orang kita hanya dimanfaatkan’ karakter seperti ini akan membuat enggan berteman, apa lagi berkomunitas, bagaimana mau  berkomunitas sedangkan ia takut kalau ikut berkomunitas nanti bakalan disuruh-suruh.

Padahal dengan membantu sesama tidak selalu menjadikan kita menjadi sosok people pleaser, kita pasti taulah mana yang berniat memanfaatkan kita dan mana yang memang benar minta tolong. Sebenarnya ketika kita sulit untuk dimintai pertolongan disitulah orang melihat karakter kita, kalau kita ternyata bebal. Kalau udah gitu pasti dia gak bakalan minta tolong lagi ke kita, apakah itu baik ? menurut saya gak. itu berarti ada yang salah dengan karakter sosial kita. perlu diterapi.

Yang lebih parah jika sikap bebal itu merata atau berjamaah dimasyarakat. Ini berbahaya karena bisa mempengaruhi orang lain, orang lain enggan memulai pekerjaan karena ia merasa pekerjaan itu  hanya dibebankan  kepadanya. Hasilnya pekerjaan itu gak bakalan kelar.

Ketika karakter buruk tersebut terus subur hingga dewasa, berkeluarga, sebagai pemimpin, diberi amanah maka habislah sudah. Nggak heran terjadi korupsi, dan tidak perduli terhadap sesama.

Dulu pas SD,SMP, SMA setidaknya kita pasti pernah dengar istilah gontong royong, saling menghargai disitulah sebenarnya kita diajarkan tentang karakter. Tapi seringkali apa yang diajarkan hanya bertahan di kepala tersimpan menjadi pemahaman belaka. Kita sama sekali tidak menerapkan dikehidupan sosial kita.

Coba kita lihat sedikit di jepang konon anak-anak disana sebelum diajarkan tentang akademik mereka terlebih dahulu diajarkan tentang karakter pengembangan diri karena ini yang akan mempengaruhi cara kepemimpinan kelak. Dengan harapan karakter itu menjadi habbit dan terus melekat hingga mereka dewasa. Sederhananya mereka diajarkan tentang menjaga kebersihan, bekerja keras dan tekun, membiasakan membaca, peduli sesama, menghormati orang tua, berkerja dengan teman-teman, bahkan dari artikel yang saya baca anak-anak disana diminta membersihkan kolam sambil bermain-main. Bayangkan kita yang punya tugas piket kelas seminggu sekali aja kita sering tidak bertanggung jawab.

Kesimpulannya, jika sejak kecil kita diajarkan tentang kepedulian, diajarkan bertanggung jawab, diajarkan berinisiatif, dan bukan hanya sekedar teori tapi juga kita menerapkannya dikehidupan kita. Maka Insya Allah bangsa kita ini akan maju. mari kita belajar mengubah karakter buruk kita.

 

Bagaimana Seharusnya Proses Belajar Mengajar ?


Beberapa waktu yang lalu saya meminta nasehat kepada Bapak Dr.rer.nat. M. F. Rosyid, seorang Dosen Fisika UGM, Doktor dibidang Fisika dari Technische Universitaet Clausthal Jerman. Bapak ini juga sering diundang sebagai narasumber dan pembicara dalam seminar-seminar nasional penelitian fisika diberbagai kampus di Indonesia.

Didalam pesan via facebook tersebut, saya bertanya kepada beliau “tentang apa tips-tips dan movitasi untuk para mahasiswa”.

Alhamdulillah Beliau pun membalas pesan saya, dan kemudian memberikan saya nasehat sebagai berikut :

Nilai (terkait suatu pembelajaran) muncul sebagai hasil penilaian. Mengingat esensinya, penilaian lebih tepat jika dipandang sebagai pengukuran. Sementara pengukuran dilakukan untuk mengetahui kuantitas tertentu dari sutau sistem. Kuantintas ini diharapkan dapat mencerminkan banyak hal. Jika penilaian adalah pengukuran, maka nilai sesungguhnya adalah hasil pengukuran. Jadi, ujian, misalnya, adalah pengukuran dan nilai ujian adalah hasil ukur. Hasil ukur ini BUKAN pencapaian pembelajaran, melainkan sesuatu yang diharapkan menjadi cerminan hasil pembelajaran, yakni menggambarkan seberapa dalam pemahaman dan seberapa mapan penguasaan seseorang akan pokok-pokok pembelajaran. Tetapi, dalam prakteknya, dewasa ini sangat sulit untuk memperoleh hasil ukur yang benar-benar mencerminkan hasil pembelajaran seseorang. Banyak faktor yang memengaruhinya: mulai dari soal sebagai alat ukurnya, pandangan guru atau dosen tentang ujian, pandangan siswa atau mahasiswa tentang ujian, dan masih banyak lagi. Saking rumitnya permasalahan ini, muncullah bidang kajian yang kita kenal sebagai psikometrik.

Dengan cara pandang di atas, hasil penilaian (baik maupun buruk) seharusnya bermanfaat bagi para pembelajar terutama untuk penyempurnaan kualitas hasil-hasil pembelajaaran. Nilai yang didapat seorang pembelajar memberikan banyak informasi tentang seberapa jauh dia masih harus berupaya untuk lebih memahami dan menguasai suatu topik pembelajaran.

Tetapi, dewasa ini terkesan bahwa nilai adalah pencapaian dan ujian adalah sesuatu momen yang sangat menentukan jalan kehidupan seseorang.

 

Jika nilai dapat dipandang sebagai indikator, maka pembelajaran adalah proses. Jalannya proses dapat dilihat dari indikatornya. Jangan salah, nyala indikator sesungguhnya bukanlah pencapaian pembelajaran, bukan pula tujuan pembelajaran. Tetapi, sudah sepantasnya nyala indikator terkorelasi dengan proses: jika indikator menyala maka proses telah berlangsung dengan benar sehingga pencapaian-pencapaian dalam proses mengakibatkan indikator-indikator menyala. Jadi, kesempurnaan proseslah yang seharusnya menyalakan indikator. Oleh karena itu, kesempurnaan proseslah yang harus diupayakan dengan kesungguhan.

Tetapi sepanjang hayat saya hingga hari ini, saya melihat masyarakat kita cenderung menjadi lebih terfokus pada nyala indikator. Mengapa? Ternyata nyala indikator lebih memberikan optimisme bagi kehidupan individual daripada pencapaian-pencapaian nyata dalam proses pembelajaran. Seringkali ada UPAYA KHUSUS yang dilakukan oleh masyarakat kita guna menyalakan indikator tanpa peduli dengan kesempurnaan proses. Mereka lebih fokus dalam upaya khusus ini daripada BERSABAR dalam berproses. Mereka lebih percaya pada upaya khusus ini sebab mereka lebih percaya pada konsekuensi nyala indikator. Tetapi secara kolektif, upaya-upaya khusus ini akhirnya hanya membawa kita pada fatamorgana. Seperti yang Anda lihat hari ini, banyak sarjana yang tidak berdaya dengan atribut yang mereka miliki sebab kesarjanaan mereka adalah kesarjanaan yang kosong.

Tetapi ketahuilah, bahwa pencapaian-pencapaian dalam proses pembelajaran akan lebih nyata dan memberi manfaat nyata dalam kehidupan. Bersabar dalam proses itu (mungkin harus melalui jalan berliku dan mendaki) akan membawa Anda pada kualitas diri yang mampu menapaki kehidupan dengan penuh keyakinan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

 

Lazimnya, perpustakaan universitas di tanah air menjadi ramai menjelang ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Menurut sepengamatan saya, hanya beberapa mahasiswa saja yang bersabar sepanjang semester untuk ‘tenggelam’ dalam buku-buku teks serius dan jatuh bangun dalam berlatih menerapkan konsep dan teori dalam permasalahan-permasalahan. Yang lainnya berharap dapat “menunggu di tikungan”. Biasanya mereka (‘penunggu tikungan’ itu) telah memiliki koleksi soal-soal UTS dan UAS yang akan menjadi bekal menghadapi ujian-ujian itu. Bekal ini akan menjadi fokus mereka menjelang UTS maupun UAS. Mereka akan berkumpul membahas soal-soal itu sambil berharap beberapa di antaranya keluar dalam ujian atau mereka mendatangi beberapa mahasiswa “sakti” (yang selalu ada di setiap angkatan) atau kakak-kakak angkatan yang menonjol untuk menanyakan jawaban soal-soal yang ada dalam koleksi mereka. Parahnya, beberapa dosen tidak pernah membuat soal baru untuk setiap tahunnya. Para dosen itu hanya ‘merotasi’ atau menggilir soal-soal itu. Klop sudah antara harapan ‘penunggu tikungan’ dan dosen yang sibuk itu. Itulah salah satu yang dalam status saya sebelumnya saya sebut sebagai “UPAYA KHUSUS untuk menyalakan indikator”.

Berbahagialah Anda yang telah mampu menekan diri Anda sehingga bisa bersabar sepanjang semester untuk ‘tenggelam’ dalam buku-buku teks dan berupaya keras untuk kesempurnaan proses pembelajaran. Mengerjakan atau (lebih tepatnya) memecahkan soal-soal secara mandiri merupakan sesuatu yang sangat penting bagi Anda. Tetapi ingat, upaya Anda dalam memecahkan soal-soal bukan dimaksudkan sebagai latihan untuk mempersiapkan diri dalam ujian-ujian, melainkan untuk mengontrol kesempuranaan proses yang Anda lakukan. Mampu memecahkan soal-soal merupakan indikator penguasaan Anda atas pokok-pokok pembelajaran.

Jika Anda sudah mampu menikmati hal ini, maka Anda tidak perlu khawatir dengan hal-hal kecil seperti UAS dan UTS karena Anda memiliki target-target yang jauh lebih hakiki dan tentu tidak sesederhana itu.

Pencapaian-pencapaian pembelajaran yang hakiki itu akan lebih membahagiakan dan memerdekakan meskipun harus dilalui dengan kerja keras. Tetapi pepatah Jerman mengatakan “Arbeit mach frei” (bekerja membuat kita merdeka).

Perhatikan bahwa di setiap jenjang pendidikan di tanah air ini terutama di perguruan tinggi, penyelenggaraan kegiatan pembelajaran selalu disisipi dan ditutup dengan ujian. Anda harus sukses di kedua ujian itu atau Anda harus mengulang matakuliah itu tahun depan. Keadaan atau tuntutan semacam inilah yang menyebabkan terjadinya PERGESERAN kesadaran, dari kesadaran bahwa penyelenggaraan sebuah matakuliah adalah upaya untuk memupuk atau membangun pemahamanan dan kompetensi suatupokok pembelajaran menjadi sekedar upaya persiapan menghadapi ujian tengah semester dan akhir semester. Pergeseran kesadaran semacam itu ternyata bukan saja terjadi pada diri mahasiswa, tetapi ternyata juga bisa terjadi pada para dosen dan peneyelenggara program studi. Akibatnya, sikap dan perilaku para mahasiswa ataupun dosen selama perkuliahan tidak mencerminkan upaya sungguh-sungguh dalam memupuk kompetensi.

Gagal di ujian tengah semester dan ujian akhir semester berarti keharusan mengulang kuliah tahun depan. Kegagalan itu seolah menghapus proses pembelajaran yang telah dilakukan selama satu semester. Itulah alasan para mahasiswa lebih memilih fokus pada upaya untuk menghadapi ujian-ujian, yakni lebih fokus pada “upaya khusus” dalam menghadapi setiap ujian.
Padahal gagal di ujian bukan berarti gagal dalam pencapaian hakiki proses pembelajaran. Banyak faktor yang menentukan kelulusan dalam ujian. Dalam hal ini, para dosen harus benar-benar mampu memperbaiki instrumen penilaian sehingga penilaian benar-benar objektif dan mampu melihat pencapaian haikiki proses pemebelajaran.

Ada sistem yang menarik untuk dikemukakan di sini yang kemungkinan dapat mengatasi persoalan di atas. Sistem semacam ini diterapkan di Jerman. Kuliah-kuliah tidak diakhiri dengan ujian. Ujian dilaksanakan terpisah dari kuliah. Jika Anda mengambil sebuah mata kuliah pada suatu semester, maka Anda boleh mengambil ujian matakuliah tersebut kapanpun setelah semester itu, yakni sewaktu-waktu ketika Anda merasa sudah siap. Ujian yang diselenggarakan merupakan ujian lesan. Dengan ujian semacam ini, dosen benar-benar bisa melihat kedalaman pemahaman dan kompetensi Anda. Dengan cara seperti ini, kuliah benar-benar dimaksudkan sebagai sarana untuk memupuk kompetensi dan memperdalam pemahaman. Jika dalam suatu ujian gagal, maka Anda dapat segera mengajukan usulan ujian lagi, tanpa harus ikut kuliah lagi.

 

Tulisan Bapak Rosyid ini sungguh sangat bermanfaat dan memberikan gambaran kepada saya, tentang bagaimana seharusnya mahasiswa itu.

Kepada Bapak Rosyid saya haturkan terima kasih dan semoga Bapak selalau dalam lindungan Allah SWT. Dan tulisan ini saya muat ulang diblog dengan harapan semoga dapat memberikan motivasi dan semangat belajar kepada teman-teman.